CAD-CAM

Posted: March 25, 2011 in Study

Sistem Manufacture

Definisi Dasar dari Sistem Manufacturing

Sistim manufacturing telah banyak digunakan secara luas, baik dalam bidang

industri maupun bidang pendidikan. Definisi secara umum yang berhubungan dengan

terminologi belum dibuat standarisasinya. Berikut ini definisi dari sistim

manufacturing.

  1. Manufacturing

Korelasi antara operasi dan aktivitas, yang mana termasuk didalamnya disain

produk, pemilihan material, perencanaan (planning), produksi, inspeksi,

managemen, dan pemasaran produk.

  1. Manufacturing production

Merupakan proses yang mangadaptasi proses fabrikasi diluar aktivitas desain,

perencanaan (planning), dan pengontrolan produk.

  1. Manufacturing Processes
  1. a. Casting processes

Proses pembentukan material dengan cara mencairkan logam yang akan

dituang dalam cetakan hingga mengeras sesuai dengan bentuk cetakan.

b. Forming processes

Pembentukan material solid dengan cara memanaskan benda kemudian

memberikan penekanan gaya hingga benda kerja sesuai dengan bentuk yang

dikehendaki.

c. Fabrication Processes

Proses ini merupakan proses tahap ke dua yang mana sebelumnya telah

dikerjakan oleh proses lain. Tahap ini mengerjakan bagian-bagian part yang

digabung menjadi suatu komponen. Pengabungan ini bersifat permanen atau

temporary cara pengabungganya menggunakan pencairan logam tambahan

yang dipanaskan.

d. Material removal Processes

Proses ini adalah penghilangan bagian komponen yang berupa raw material

dengan cara pengikisan benda kerja sampai dikehendaki.

  1. Manufacturing Engineering

Melibatkan dalam disain, operasi, pengontrollan dalam manufacturing yang

melibatkan berbagai ilmu yang lain seperti elektronika, kimia dll.

  1. Manufacturing System

Suatu sistim yang menggerakkan manufacturing ke dalam suatu siklus yang

melibatkan semua elemen dalam aktivitas manufactur.

Gambar 1. Diagram sistim manufacturing

Keluaran dari manufacturing system dapat dikategorikan ke dalam dua hal :

a. Keluaran secara fisik berupa produk

b. Informasi tentang kemajuan dari manufacturing yang akan digunakan

sebagai umpan balik untuk menentukan perubaha proses permesinan dan

mekanisme pengontrolan.

Industri  Manufaktur

Perkembangan industri di setiap negara umumnya mempunyai ciri yang sama,

yaitu adanya suatu industri dasar yang mendukung hampir seluruh industri di negara

ybs. Industri dasar ini umumnya dinamakan dengan Industri Rekayasa, (Engineering

Industries). Industri rekayasa merupakan tulang punggung industri, yang

menyediakan barang kapital (mesin produksi) dan jasa pemeliharaan bagi industri

manufaktur (Manufacturing Industries) serta menyediakan barang-barang yang tak

habis pakai (durable goods) kepada konsumen. Jika industri rekayasa dalam negeri

masih kecil skalanya, maka fungsinya digantikan oleh industri rekayasa luar negeri.

Hal ini dapat dilihat dari tingginya angka import barang-barang modal dari waktu ke

waktu sejalan dengan perkembangan industri manufaktur dalam negeri.

Industri rekayasa merupakan bidang dengan kegiatan beragam, mulai dari

industri hulu (pengecoran, baja, material industri) sampai dengan industri hilir

(industri motor listrik, perkakas). Dari beragam kegiatan tersebut, industri pemesinan

(machining industry) termasuk salah satu jenis industri yang menonjol peranannya.

Industri pemesinan mampu menghasilkan peralatan komponen (umumnya dari logam)

dengan ciri khusus, yaitu ketelitian geometrik yang tinggi.

Dengan ketelitian geometrik (ukuran, dimensi, bentuk, kehalusan permukaan)

yang tinggi ini, memungkinkan berbagai komponen dapat dirakit menjadi peralatan

yang handal (mesin perkakas, mesin roket raksasa pendorong pesawat ulang-alik

(space shuttle), kapal terbang, mobil, sepeda motor, sampai dengan sepeda gunung).

Berbagai cetakan (mould, dies) dapat dibuat, yang pada gilirannya cetakan ini mampu

menghasilkan komponen atau barang-barang yang bercirikan ketelitian geometrik

tinggi (pembungkus memori dan otak kornputer (chip; CPU), tabung layar TV, jarum

suntik). Industri pemesinan mampu memasok berbagai suku cadang bagi industri gas,

minyak, petrokimia, dan industri tekstil serta beragam industri yang termasuk dalam

industri manufaktur.

Jenis Industri

Menurut klasifikasi internasional mengenai jenis industri, ISIC (International

Standard on Industrial Classification), industri pemesinan ini tidak dikiasifikasikan

secara jelas. Hal ini dapat dimaklumi karena klasifikasi tersebut dibuat berdasarkan

jenis produk yang dihasilkannya. Meskipun demikian, beberapa jenis industri yang

diklasifikasikan oleh ISIC, ada yang mempunyai bagian pemesinan atau pekerjaan

yang berkaitan dengan proses pemesinan yang mempunyai peranan yang menonjol

pada hasil akhirnya. Gambar 2 menunjukkan garis besar klasifikasi ISIC, yang

difokuskan pada jenis industri, yang peranan proses pemesinannya relatif menonjol.

Ciri Industri Permesinan

Karena peranannya yang sedemikian penting, maka wajarlah industri yang

menitik beratkan kegiatannya pada proses pemesinan harus mendapatkan prioritas

pertama dalam pendirian, pengembangan, dan modernisasi. Industri pemesinan dapat

berskala kecil, misalnya suatu bengkel pemeliharaan, sampai yang berskala besar, seperti industri pesawat terbang, kapal, kereta api, mobil, dsb. Dari beragam skala ukuran industri pemesinan ini umumnya mereka mempunyai ciri yang sama yaitu:

Keanekaragaman jenis & jumlah produk serta waktu penyerahan, keanekaragaman

fasilitas produksi, ketidaktentuan lingkungan karena pesanan order yang cepat

berubah, kesulitan dalam penjadwalan dan pemanfaatan fasilitas, kesulitan dalam

pengontrolan.

Pengklasifikasian industri sesuai dengan jenis produk yang dihasilkan.

Menurut ISIC (International Standard on Industrial Classification), industri

manufaktur dikelompokkan menjadi beberapa jenis industri berkode 3. Industri

enjinering, yang termasuk pada kelompok industri berkode 38, dibagi dalam beberapa

rup dengan kode 381, 382, 383, dan 384. Pada kelompok industri inilah kegiatan

proses pemesinannya umumnya relatif menonjol.

Bagi keperluan pembahasan sistem produksi dengan kegiatan pemesinan yang

relatif kompleks, maka industri mesin dan peralatan pabrik (382) digabung dengan

industri konstruksi logam (381-3) dan industri bejana tekan (3814) dapat dipakai

sebagai model pengembangan industri pemesinan di Indonesia. Untuk menanggulangi

masalah tersebut, sistem produksi bagi industri pemesinan perlu dirancang dengan

baik dengan memperhatikan beberapa hal sbb.:

– Struktur organisasi yang spesifik

– Pola umum penanganan yang mengacu pada standardisasi,

– Pola umum penanganan yang mengacu pada fungsi faktor pendukung,

– Ketersediaan tenaga kerja (kualitas dan jumlah).

Teknologi Yang Diterapkan Industri Manufaktur

Karena membuat beragam jenis produk terutama yang berbasis logam, industri

manufaktur, khususnya industri enjinering memerlukan berbagai jenis teknologi

perancangan, pembuatan, dan pengelolaan proses produksi. Secara garis besar

teknologi ini bisa dikelompokkan sebagai berikut,

1. Teknologi/Rekayasa Perancangan (Engineering Design)

a.Rekayasa Teori, Terapan, Simulasi, Optimisasi (Theoretical, Application,

Simulation, Optimization Engineering)

b. Rekayasa Geometrik (Drawing & Tolerancing_Engineering)

c. Pemilihan Material, Komponen (Material & Component Selection,

Standardization)

d. Perancangan Sistem, Pengontrolan/Otomasi, Kehandalan (Total System

Design, Control Automation, Reliability)

e. Pengembangan, Pembaruan, dan Pengelolaan Basis Data Teknis/ Rekayasa

(Technical Engineering Database: Development, Updating, Managing)

2 Teknologi/Rekayasa Proses (Process Production Engineering)

a. Peleburan (Foundry)

b. Pencetakan (Casting, Die Casting)

c. Penempaan (Forging)

d.Pembentukan (Forming, Plate works, Wire Drawing)

e.Perlakuan – Panas/Permukaan (Heat treatment, Surface-treatment)

f.Penyambungan (Metal Joining; Welding, Rivetting, Gluing)

g.Permesinan (Machining)

h. Proses Energi Fisik, Listrik, Cahaya, Kimiawi (Physical, Electrical, Light,

Chemical, Non Konvensional, EDM, L8M, ECM)

i.Perakitan/fabrikasi pembuatan perkakas (Assembling, Fabrication, Tool

making)

j. Pemrosesan Material Komposit (Tape Lying, Filament Winding, Curing)

3. Teknologi/Rekayasa Pengukuran/Pengetesan, Pemeliharaan (Metrology,

Measurement, Testing, Maintenance)

a. Metrologi Geometrik (Geometrical Dimensional Metrology)

b. Metalurgi Fisik, Struktur (Physical, Chernical Structural Metallurgy)

c. Pengukuran Teknis (Engineering Measurement)

d.Pengetesan Mesin & Rekalibrasi (Machine Tools Testing & Recalibration)

e. Pengetesan Produk (Product Testing)

f. Pembuatan Prototipe (Prototyping)

g. Analisis Kegagalan (Failure Analyses)

h. Pemeliharaan Sarana, Informasi, Prosedur, dan Produk

4.  Teknologi Rekayasa Perencanaan & Pengelolaan Produksi (Engineering

Process Planning, Scheduling, Monitoring, Evaluating, Managing)

a. Perencanaan Proses (Process Planning, NC Programming)

b. Perkiraan/perencanaan & Perhitungan Ongkos (Cost Calculation, Cost

Planning)

c. Pemantauan & Optimisasi Proses (Process Monitoring & Optimization)

d. Penjaminan Mutu (Quality Assurance)

e. Penyiapsediaan/Pengalokasian & Penjadwalan (Allocation & Scheduling)

f. Pengauditan (Procedure, Process, Quality Auditing)

g. Pengelolaan Sumber Daya (Resources Management)

h. Pemantauan & Rekayasa Pasar (Market Research/Monitoring, Market

Engineering)

i. Pengembangan, Pembaruan, dan Pengelolaan Basis Data Administratif &

Logistik (Administrative & Logistic Database)

j. Sistem Informasi Produksi (Production Information System)

5.  Pengelolaan Organisasi/Perusahaan (Organization Enterprise Management)

a. Standardisasi (Standardization; Enterprise, Local, National, Regional,

International)

b. Peraturan, Undang-undang, Kontrak, Kerjasama

c. Pengembangan & Pengelolaan SDM (Human Resources Management &

Development)

d. Prosedur Kerja, Standar Organisasi

e. Strategi Perusahaan/Organisasi Jangka Panjang (Strategic Planning)

f. Akuntansi (Cost Accounting Auditing)

g. Pengauditan Lingkungan (Environmental Auditing)

h. Sistem Informasi Manajemen & Pengambilan Keputusan (Management

Information System, Decision Support System)

Bagi negara berkembang, seperti Indonesia, umumnya kelompok 1 di atas

jarang dipraktekkan. Bila pun dipraktekkan, tingkat Kerumitan perancangan bisa

digolongkan rendah sampai dengan menengah. Kebanyakan industri manufaktur di

negara berkembang merupakan cabang atau bekerjasama dengan perusahaan induk di

luar negeri. Jadi, perancangan produk yang rumit masih dipasok oleh perusahaan

induk atau berdasarkan lisensi.

Suatu jenis industri manufaktur umumnya hanya mengusahakan jasa produksi

satu atau beberapa produk sejenis. Dengan demikian, hanya beberapa jenis proses

seperti yang tercantum pada kelompok 2 di atas akan diperlukan. Karena industri

manufaktur tergolong industri yang padat modal, kebanyakan industri yang tumbuh

dan berkembang saat ini umumnya hanya menghasilkan produk sederhana (kabel,

mesin & perkakas sederhana, perlengkapan rumah tangga). Produk industri

manufaktur yang termasuk rumit seperti kendaraan motor sebagian besar

komponennya masih didatangkan dari pabrik induk di luar negeri.

Meskipun sudah ada yang mempraktekkan, umumnya industri manufaktur

dalam negeri masih belum memprioritaskan kelompok teknologi nomor 3

(pengukuran/pengetesan) secara proporsional. Barangkali masih banyak yang

berpendapat bahwa mengukur adalah merupakan beban. Jadi, bila mungkin mereka

akan menghindarinya. Padahal, bisakah kita membuat tanpa mengukur dan menilai

apa yang kita buat?

Kelompok teknologi nomor 4 (perencanaan & penjadwalan proses), menurut

pengamatan kami, masih dilaksanakan secara minim, kalaupun tidak dikatakan

primitif. Hal ini merupakan ciri dari rendahnya kualitas sumber daya manusia yang

menanganinya. Kecuali, bagi industri yang bekerjasama dengan perusahaan asing,

umumnya perencanaan dan penjadwalan produksi bisa dikatakan cukup baik. Tetapi,

apakah memang sudah cukup baik untuk dipertandingkan dalam era kompetisi global?

Kelompok nomor 5 (manajemen perusahaan) pada banyak perusahaan

manufaktur kelihatannya berjalan lancar. Tapi apa betul demikian? Silakan pembaca

menilai sendiri dengan mengamati perilaku mereka (bagaimana mereka

memperlakukan standar internasional misainya ISO, bagaimana proses sertifikasinya

dilaksanakan, bagaimana mereka mentaati peraturan dan undang-undang, bagaimana

mereka “mengembangkan SDM”, bagaimana mereka menangani lingkungan, apa

yang terjadi dengan perpajakan, dsb.).

Permasalahan di atas makin diperumit dengan masuknya berbagai jenis

produk hasil industri manufaktur luar negeri. Alasan klasik masih sering kita dengar,

pengusaha menyalahkan pemerintah karena tak bisa melindungi industri manufaktur

dalam negeri, pemerintah menyalahkan pengusaha karena tak sungguh-sungguh

mentaati peraturan. Sementara aturan masih “tambal sulam”, “krismon” pun menjadi

“kambing hitam yang paling hitam”. Bila semua saling menyalahkan hasiInya jelas,

yakni kesalahan yang tak bisa menjadi betul dengan sendirinya.

Berbagai macam usaha perbaikan dapat dilakukan. Namun harus diingat

bahwa kerusakan/kesalahan telah cenderung meluas, rumit, dan saiing mengait

(“lingkaran setan”). Oleh sebab itu, perlu segera ditangani dengan memperbaiki

semuanya secara serentak (pemerintah, pengusaha, pelanggan, pemasok).

Definisi Rekayasa (Engineering)

Menurut definisi, Rekayasa (Engineering) adalah seni untuk memanfaatkan

teknologi dan menjalankan/mengoperasikan mesin & peralatan untuk mengolah bahan

menjadi produk dengan nilai tambah tertentu. Kata seni (art) memiliki konotasi erat

dengan manusia. Berarti, rekayasa memerlukan manusia yang memiliki kebisaan.

Jadi, tidak akan salah bila pengembangan Industri Manufaktur pada umumnya dan

Industri rekayasa pada khususnya dimulai dengan mengembangkan SDM.

Pengembangan SDM ini perlu ditangani secara sistematik dan tekun (sabar, ngotot,

tak kenal menyerah, dan sungguh-sungguh) supaya Industri Manufaktur dapat

dipraktekkan dan dikembangkan di negara kita.

Pola umum acuan standardisasi

Manfaat Standar

Untuk memperlancar penanganan sistem produksi dengan kendala seperti yang

disinggung di muka, diperlukan dasar yang kuat mengenai penghayatan dan

pemanfaatan standar. Standar tersebut meliputi rancangan, proses, prosedur, material,

dan komponen/produk, baik berupa standar internasional (ISO), asing (DIN, JIS, dsb),

nasional (SNI), asosiasi (ASTM, dsb) maupun standar yang dikembangkan sendiri

(PPI; standar lokal; pabrik peralatan industri). Berbagai manfaat standar yang patut

dikemukakan antara lain,

1. Mempermudah perancangan (standar gambar teknik, toleransi dan suaian),

2. Mempermudah perancangan, perencangan & pengontrolan (standar material,

komponen, proses, dan prosedur), .

3. Mempermudan dan mengefektifkan penjaminan mutu (standar kontrol

kualitas),

4. Mempermudah pengelolaan (standar elemen basis data).

Acuan standardisasi dalam pembentukan sistem produksi bagi pabrik peralatan

industri seperti ini harus diterapkan secara nyata demi untuk menghasilkan produk

yang berkualitas. Secara umum, metoda pemanfaatan standar ini juga diulas dalam

standar internasional yaitu ISO seri 9000 (Quality Management and Quality

Assurance Standards; Guidelines for selection and use). Beberapa jenis standar ISO

yang memerinci system penjaminan mutu ini adalah:

– ISO 8402, Quality Vocabulary,

– ISO 9001, Quality Systems; Model for Quality Assurance in Design/Development,

Production, Installation and Servicing.

– ISO 9002, Quality Systems; Model for Quality Assurance in Production and

Installation.

– ISO 9003, Quality Systems; Model for Quality Assurance in Final Inspection and

Test.

– ISO 9004, Quality Systems; Quality Management and Quality System Elements;

Guidelines

Seri terbaru dari standar di atas adalah.

– ISO 9000-2000E, Quality Management Systems-Fundamentals and Vocabulary

Sebagai standar yang sangat erat hubungannya dengan ISO seri 9000 adalah:

– ISO 19011, Guidance on Auditing Quality and Environmental Management Systems

FUNGSI PENDUKUNG PEMANFAATAN TEKNOLOGI CAD-CAM

Untuk menangani mesin dan peralatan produksi yang dimiliki pabrik,

diperlukan sistem pendukung yang efektif dan efisien mengingat kecanggihan dan

harga mesin/peralatan ybs. Sistem Produksi dari suatu industri pemesinan yang

memanfaatkan CAD-CAM (Computer Aided Design-Manufacturing) dapat dianggap

sebagai sistem terpadu yang terdiri atas beberapa bagian/departemen yang

bekerjasama erat untuk mencapai tujuan tertentu secara efektif (berfungsi dalam

mencapai tujuan), dan efisien’ (memaksimumkan pemanfaatan personil, sarana,

modal, dan informasi).

Istilah CAM (Computer Aided Manufacturing) biasanya berkaitan erat dengan

CAD (Computer Aided Design), karena perancangan mendahului pembuatan/fabrikasi

maka dikenal istilah CAD-CAM. Pada istilah ini, tersirat pemakaian komputer dalam

ke dua kegiatan tersebut di mana, sesuai dengan perkembangan teknologi, memang

komputer saat ini memegang peranan dalam banyak hal. CAD-CAM muncul sekitar

awal tahun limapuluhan yaitu saat diperkenalkan jenis Mesin Perkakas Kontrol

Numerik (NC Machine Tools) serupa dengan mesin perkakas biasa yang gerakan

pahat potongnya dikontrol secara numerik (digital) berdasarkan program. Pada

mulanya, pembuatan program bagi mesin ini amat sulit dan perlu tindakan coba-

koreksi (trial & error) melalui produksi percobaan. Sekitar pertengahan tahun

enampuluhan, diperkenalkan layar monitor grafik (Graphic CRT Sejak itu,

pemrograman mesin NC mulai dipermudah karena dengan perkembangan perangkat

lunak simulasi proses pemesinan dapat dilakukan pada layar monitor kornputer

pernrograman NC.

Semula sistem CAD-CAM hanya bisa dimanfaatkan oleh industri industri

besar, seperti industri kapal terbang dan kendaraan bermotor di Amerika (Mc Donald

Douglas, Lockheed, Boeing, GM) serta industri kornputer (IBM) bekerjasama dengan

MIT. Pemanfaatan melalui penelitian dan pengembangan secara mandiri (inhouse

system) ini memang amat mahal. Disekitar akhir tahun enampuluhan, mulai muncul

industri yang mengkhususkan pada pemasolkan sistem CAD-CAM lengkap (tinggal

pakai”; turn key system) seperti Applicon, CALMA, Computervision yang

menyediakan selain perangkat keras juga perangkat lunak (masih terbatas pada 2-

dimensional drafting system). Di pertengahan tahun tujuhpuluhan, perangkat lunak

untuk penggambaran 3-Dimensi mulai dipasarkan. Sejak itu, terbuka kemungkinan

untuk pembuatan basis data geometrik produk yang bisa dimanfaatkan pada setiap

tingkat, mulai dari perancangan, pembuatan, perakitan, penjualan, sampai dengan

jasa-purna-jual (service).

Gambar 2 Intergrasi antara CAD dan CAM

CAD-CAM, yang berkembang dari perkembangan kornputer grafis, mesin

NC, basis-data geometrik, dan pemrosesan-informasi ini, menjadi dasar dari industri

modern bercirikan kompetisi ketat dalam kualitas dan produktivitas. Mengapa CAD-

CAM dalam banyak segi dianggap menguntungkan? Dua keuntungan yang patut

diutarakan adalah keterbuatan produk berkualitas tinggi dan optimisasi pemanfaatan

tenaga ahlilterampil yang boleh dianggap langka. Meskipun demikian, banyak

masalah dalam CAD-CAM yang belum terselesaikan, antara lain dalam standardisasi

komponen komputer, komponen mesin/perkakas, format data dan sebagainya.

Sementara itu, saat ini mulai banyak dipasarkan berbagai perangkat keras dan lunak,

baik secara terpadu maupun terpisah, masing-masing dengan keuntungan dan

kerugiannya. Hal ini dapat membingungkan dan merugikan pengguna yang

kebanyakan belum berpengalaman dalam memanfaatkan teknologi CAD-CAM.

Mesin Perkakas NC sebenamya serupa dengan mesin perkakas biasa (nonNC,

konvensional) yang terdiri atas berbagai jenis sesuai dengan jenis proses yang bisa

dilaksanakannya. Misainya, untuk proses pemesinan dapat ditemulkan mesin NC jenis

bubut (turning), freis (milling), pelubangan/ koter (boring), gurdi (drilling), gerinda

(grinding). Untuk proses pengelasan, biasanya ditemukan jenis mesin NC untuk

pemotongan (flame cutting) dan pengelasan-titik (spot welding). Bagi proses

pembentukan, contohnya mesin NC jenis pelubang (punching), pemotongan

(nibbling), pembengkok-pipa (pipe bending), dan pembentulk-putar (flow turning).

Berbagai mesin NC untuk proses nontradisional / nonkonvensional, misainya proses

erosi bunga api (EDM; Electrical -Discharge-Machining), pemesinan dengan berkas

laser (LBM; laser beam machining) serta pemesinan dengan jet-air (WJM; water jet

machining). Proses pengontrolan kualitas geometrik dipermudah dengan adanya

mesin ukur koordinat (CMM; coordinate measuring machine).

Mesin-mesin NC tersebut di atas memerlukan berbagai perangkat lunak

(program) dalam pengoperasiannya, misainya program sistem operasi (operating

system), program-program kelengkapan (utility programs) dan program-program

aplikasi khusus (special application programs) bagi kornputer pengontrolnya (dengan

jenis CPU serupa dengan yang dipakai PC). Program-program tersebut dibuat oleh

pembuat sistem kontrol beserta pembuat mesin pada saat sistem kontrol (komputer)

“dikawinkan” dengan mesin perkakas. Pengguna mesin NC secara tak-langsung

danlatau langsung memanfaatkan program-program tersebut ketika mesin NC

digunakan untuk membuat produk. Dalam hal yang terakinir ini pengguna perlu

secara khusus membuat suatu program pembuatan yang dalam istilah populemya

disebut pernrograman NC (NC programming).

Dibandingkan dengan mesin konvensional yang setaraf dan sejenis, mesin NC

dikatakan lebih teliti (accurate), lebih tepat (precise), lebih luwes (flexible), dan lebih

produktif (productive). Konstruksi mesin perkakas NC secara umum lebih baik

dengan transmisi daya yang kompak dan pemakaian elemen pembimbing serta

penggerak yang lebih teliti. Pemakaian elemen pengukur jarak gerakan yang teliti,

dengan rangkaian kontrol tertutup, (closed loop controf system) serta

dimungkinkannya penerapan teknik kompensasi kesalahan yang terprogram, akan

menaikkan ketelitian gerakan pahat relatif terhadap benda kerja. Ketelitian, ketepatan,

produktivitas, dan fieksibilitas mesin perkakas jenis CNC hanya dapat dicapai bila

faktor-faktor pendukung pengoperasiannya dipenuhi, memerlukan penguasaan Teknik

Pernrograman NC dan Teknologi Proses Pemesinan termasuk Perancangan Proses,

Basis Data Geometrik supaya ketelitian produk (kesalahan geometrik sekecil

mungkin) terpenuhi dan sekaligus menjamin beriangsungnya proses pembuatan secara

benar (urutan yang logis dan seoptimum mungkin). memerlukan sistem perkakas

(tooling system) yang handal sesuai dengan fieksibilitas yang dimiliki mesin CNC.

Memerlukan sistem penyiapan benda kerja yang berupa perkakas bantu cekam untuk

menjaga produktivitas dan ketepatan proses (keterulangan dalam mereproduksi

dengan kualitas geometrik yang serupa). memerlukan pemahaman atas sifat fisik dan

ketermesinan (machinability) benda kerja supaya proses pemesinan berlangsung

secara optimum. memerlukan penghayatan atas ketelitian, ketepatan, kecermatan, dan

kualitas geometrik bagi produk yang dihasilkannya. memerlukan sarana yang

memadai dalam penyediaan tenaga dan fasilitas lainnya termasuk peralatan

transportasi (materials handling) dalam ruang pabrik dengan tata-letak (lay out)

tertentu. memerlukan pengelolaan/manajemen produksi yang handal dalam usaha

membuat produk yang kompetitif (sadar kualitas, sadar ongkos dan sadar waktu).

memerlukan pemahaman atas mesin perkakas, kontrol numerik, mekatronik,

pengetesan dan tekniklprogram perawatan.

Referensi

Rochim, Taufiq, Teknologi & Industri Manufacturing, Makalah Seminar Nasional

Viable Manufacturing System, Yogyakarta, 2002

Chang, Wysk, Wang, Computer Aided Manufacturing, Prentice Hall International,

Second Edition, 1998

Rao PN, Manufacturing Technology, Tata Mc Graw Hill, 1990

Sistem Manufacture

Definisi Dasar dari Sistem Manufacturing

Sistim manufacturing telah banyak digunakan secara luas, baik dalam bidang

industri maupun bidang pendidikan. Definisi secara umum yang berhubungan dengan

terminologi belum dibuat standarisasinya. Berikut ini definisi dari sistim

manufacturing.

  1. Manufacturing

Korelasi antara operasi dan aktivitas, yang mana termasuk didalamnya disain

produk, pemilihan material, perencanaan (planning), produksi, inspeksi,

managemen, dan pemasaran produk.

  1. Manufacturing production

Merupakan proses yang mangadaptasi proses fabrikasi diluar aktivitas desain,

perencanaan (planning), dan pengontrolan produk.

  1. Manufacturing Processes
  1. a. Casting processes

Proses pembentukan material dengan cara mencairkan logam yang akan

dituang dalam cetakan hingga mengeras sesuai dengan bentuk cetakan.

b. Forming processes

Pembentukan material solid dengan cara memanaskan benda kemudian

memberikan penekanan gaya hingga benda kerja sesuai dengan bentuk yang

dikehendaki.

c. Fabrication Processes

Proses ini merupakan proses tahap ke dua yang mana sebelumnya telah

dikerjakan oleh proses lain. Tahap ini mengerjakan bagian-bagian part yang

digabung menjadi suatu komponen. Pengabungan ini bersifat permanen atau

temporary cara pengabungganya menggunakan pencairan logam tambahan

yang dipanaskan.

d. Material removal Processes

Proses ini adalah penghilangan bagian komponen yang berupa raw material

dengan cara pengikisan benda kerja sampai dikehendaki.

  1. Manufacturing Engineering

Melibatkan dalam disain, operasi, pengontrollan dalam manufacturing yang

melibatkan berbagai ilmu yang lain seperti elektronika, kimia dll.

  1. Manufacturing System

Suatu sistim yang menggerakkan manufacturing ke dalam suatu siklus yang

melibatkan semua elemen dalam aktivitas manufactur.

Gambar 1. Diagram sistim manufacturing

Keluaran dari manufacturing system dapat dikategorikan ke dalam dua hal :

a. Keluaran secara fisik berupa produk

b. Informasi tentang kemajuan dari manufacturing yang akan digunakan

sebagai umpan balik untuk menentukan perubaha proses permesinan dan

mekanisme pengontrolan.

Industri  Manufaktur

Perkembangan industri di setiap negara umumnya mempunyai ciri yang sama,

yaitu adanya suatu industri dasar yang mendukung hampir seluruh industri di negara

ybs. Industri dasar ini umumnya dinamakan dengan Industri Rekayasa, (Engineering

Industries). Industri rekayasa merupakan tulang punggung industri, yang

menyediakan barang kapital (mesin produksi) dan jasa pemeliharaan bagi industri

manufaktur (Manufacturing Industries) serta menyediakan barang-barang yang tak

habis pakai (durable goods) kepada konsumen. Jika industri rekayasa dalam negeri

masih kecil skalanya, maka fungsinya digantikan oleh industri rekayasa luar negeri.

Hal ini dapat dilihat dari tingginya angka import barang-barang modal dari waktu ke

waktu sejalan dengan perkembangan industri manufaktur dalam negeri.

Industri rekayasa merupakan bidang dengan kegiatan beragam, mulai dari

industri hulu (pengecoran, baja, material industri) sampai dengan industri hilir

(industri motor listrik, perkakas). Dari beragam kegiatan tersebut, industri pemesinan

(machining industry) termasuk salah satu jenis industri yang menonjol peranannya.

Industri pemesinan mampu menghasilkan peralatan komponen (umumnya dari logam)

dengan ciri khusus, yaitu ketelitian geometrik yang tinggi.

Dengan ketelitian geometrik (ukuran, dimensi, bentuk, kehalusan permukaan)

yang tinggi ini, memungkinkan berbagai komponen dapat dirakit menjadi peralatan

yang handal (mesin perkakas, mesin roket raksasa pendorong pesawat ulang-alik

(space shuttle), kapal terbang, mobil, sepeda motor, sampai dengan sepeda gunung).

Berbagai cetakan (mould, dies) dapat dibuat, yang pada gilirannya cetakan ini mampu

menghasilkan komponen atau barang-barang yang bercirikan ketelitian geometrik

tinggi (pembungkus memori dan otak kornputer (chip; CPU), tabung layar TV, jarum

suntik). Industri pemesinan mampu memasok berbagai suku cadang bagi industri gas,

minyak, petrokimia, dan industri tekstil serta beragam industri yang termasuk dalam

industri manufaktur.

Jenis Industri

Menurut klasifikasi internasional mengenai jenis industri, ISIC (International

Standard on Industrial Classification), industri pemesinan ini tidak dikiasifikasikan

secara jelas. Hal ini dapat dimaklumi karena klasifikasi tersebut dibuat berdasarkan

jenis produk yang dihasilkannya. Meskipun demikian, beberapa jenis industri yang

diklasifikasikan oleh ISIC, ada yang mempunyai bagian pemesinan atau pekerjaan

yang berkaitan dengan proses pemesinan yang mempunyai peranan yang menonjol

pada hasil akhirnya. Gambar 2 menunjukkan garis besar klasifikasi ISIC, yang

difokuskan pada jenis industri, yang peranan proses pemesinannya relatif menonjol.

Ciri Industri Permesinan

Karena peranannya yang sedemikian penting, maka wajarlah industri yang

menitik beratkan kegiatannya pada proses pemesinan harus mendapatkan prioritas

pertama dalam pendirian, pengembangan, dan modernisasi. Industri pemesinan dapat

berskala kecil, misalnya suatu bengkel pemeliharaan, sampai yang berskala besar, seperti industri pesawat terbang, kapal, kereta api, mobil, dsb. Dari beragam skala ukuran industri pemesinan ini umumnya mereka mempunyai ciri yang sama yaitu:

Keanekaragaman jenis & jumlah produk serta waktu penyerahan, keanekaragaman

fasilitas produksi, ketidaktentuan lingkungan karena pesanan order yang cepat

berubah, kesulitan dalam penjadwalan dan pemanfaatan fasilitas, kesulitan dalam

pengontrolan.

Pengklasifikasian industri sesuai dengan jenis produk yang dihasilkan.

Menurut ISIC (International Standard on Industrial Classification), industri

manufaktur dikelompokkan menjadi beberapa jenis industri berkode 3. Industri

enjinering, yang termasuk pada kelompok industri berkode 38, dibagi dalam beberapa

rup dengan kode 381, 382, 383, dan 384. Pada kelompok industri inilah kegiatan

proses pemesinannya umumnya relatif menonjol.

Bagi keperluan pembahasan sistem produksi dengan kegiatan pemesinan yang

relatif kompleks, maka industri mesin dan peralatan pabrik (382) digabung dengan

industri konstruksi logam (381-3) dan industri bejana tekan (3814) dapat dipakai

sebagai model pengembangan industri pemesinan di Indonesia. Untuk menanggulangi

masalah tersebut, sistem produksi bagi industri pemesinan perlu dirancang dengan

baik dengan memperhatikan beberapa hal sbb.:

– Struktur organisasi yang spesifik

– Pola umum penanganan yang mengacu pada standardisasi,

– Pola umum penanganan yang mengacu pada fungsi faktor pendukung,

– Ketersediaan tenaga kerja (kualitas dan jumlah).

Teknologi Yang Diterapkan Industri Manufaktur

Karena membuat beragam jenis produk terutama yang berbasis logam, industri

manufaktur, khususnya industri enjinering memerlukan berbagai jenis teknologi

perancangan, pembuatan, dan pengelolaan proses produksi. Secara garis besar

teknologi ini bisa dikelompokkan sebagai berikut,

1. Teknologi/Rekayasa Perancangan (Engineering Design)

a.Rekayasa Teori, Terapan, Simulasi, Optimisasi (Theoretical, Application,

Simulation, Optimization Engineering)

b. Rekayasa Geometrik (Drawing & Tolerancing_Engineering)

c. Pemilihan Material, Komponen (Material & Component Selection,

Standardization)

d. Perancangan Sistem, Pengontrolan/Otomasi, Kehandalan (Total System

Design, Control Automation, Reliability)

e. Pengembangan, Pembaruan, dan Pengelolaan Basis Data Teknis/ Rekayasa

(Technical Engineering Database: Development, Updating, Managing)

2 Teknologi/Rekayasa Proses (Process Production Engineering)

a. Peleburan (Foundry)

b. Pencetakan (Casting, Die Casting)

c. Penempaan (Forging)

d.Pembentukan (Forming, Plate works, Wire Drawing)

e.Perlakuan – Panas/Permukaan (Heat treatment, Surface-treatment)

f.Penyambungan (Metal Joining; Welding, Rivetting, Gluing)

g.Permesinan (Machining)

h. Proses Energi Fisik, Listrik, Cahaya, Kimiawi (Physical, Electrical, Light,

Chemical, Non Konvensional, EDM, L8M, ECM)

i.Perakitan/fabrikasi pembuatan perkakas (Assembling, Fabrication, Tool

making)

j. Pemrosesan Material Komposit (Tape Lying, Filament Winding, Curing)

3. Teknologi/Rekayasa Pengukuran/Pengetesan, Pemeliharaan (Metrology,

Measurement, Testing, Maintenance)

a. Metrologi Geometrik (Geometrical Dimensional Metrology)

b. Metalurgi Fisik, Struktur (Physical, Chernical Structural Metallurgy)

c. Pengukuran Teknis (Engineering Measurement)

d.Pengetesan Mesin & Rekalibrasi (Machine Tools Testing & Recalibration)

e. Pengetesan Produk (Product Testing)

f. Pembuatan Prototipe (Prototyping)

g. Analisis Kegagalan (Failure Analyses)

h. Pemeliharaan Sarana, Informasi, Prosedur, dan Produk

4.  Teknologi Rekayasa Perencanaan & Pengelolaan Produksi (Engineering

Process Planning, Scheduling, Monitoring, Evaluating, Managing)

a. Perencanaan Proses (Process Planning, NC Programming)

b. Perkiraan/perencanaan & Perhitungan Ongkos (Cost Calculation, Cost

Planning)

c. Pemantauan & Optimisasi Proses (Process Monitoring & Optimization)

d. Penjaminan Mutu (Quality Assurance)

e. Penyiapsediaan/Pengalokasian & Penjadwalan (Allocation & Scheduling)

f. Pengauditan (Procedure, Process, Quality Auditing)

g. Pengelolaan Sumber Daya (Resources Management)

h. Pemantauan & Rekayasa Pasar (Market Research/Monitoring, Market

Engineering)

i. Pengembangan, Pembaruan, dan Pengelolaan Basis Data Administratif &

Logistik (Administrative & Logistic Database)

j. Sistem Informasi Produksi (Production Information System)

5.  Pengelolaan Organisasi/Perusahaan (Organization Enterprise Management)

a. Standardisasi (Standardization; Enterprise, Local, National, Regional,

International)

b. Peraturan, Undang-undang, Kontrak, Kerjasama

c. Pengembangan & Pengelolaan SDM (Human Resources Management &

Development)

d. Prosedur Kerja, Standar Organisasi

e. Strategi Perusahaan/Organisasi Jangka Panjang (Strategic Planning)

f. Akuntansi (Cost Accounting Auditing)

g. Pengauditan Lingkungan (Environmental Auditing)

h. Sistem Informasi Manajemen & Pengambilan Keputusan (Management

Information System, Decision Support System)

Bagi negara berkembang, seperti Indonesia, umumnya kelompok 1 di atas

jarang dipraktekkan. Bila pun dipraktekkan, tingkat Kerumitan perancangan bisa

digolongkan rendah sampai dengan menengah. Kebanyakan industri manufaktur di

negara berkembang merupakan cabang atau bekerjasama dengan perusahaan induk di

luar negeri. Jadi, perancangan produk yang rumit masih dipasok oleh perusahaan

induk atau berdasarkan lisensi.

Suatu jenis industri manufaktur umumnya hanya mengusahakan jasa produksi

satu atau beberapa produk sejenis. Dengan demikian, hanya beberapa jenis proses

seperti yang tercantum pada kelompok 2 di atas akan diperlukan. Karena industri

manufaktur tergolong industri yang padat modal, kebanyakan industri yang tumbuh

dan berkembang saat ini umumnya hanya menghasilkan produk sederhana (kabel,

mesin & perkakas sederhana, perlengkapan rumah tangga). Produk industri

manufaktur yang termasuk rumit seperti kendaraan motor sebagian besar

komponennya masih didatangkan dari pabrik induk di luar negeri.

Meskipun sudah ada yang mempraktekkan, umumnya industri manufaktur

dalam negeri masih belum memprioritaskan kelompok teknologi nomor 3

(pengukuran/pengetesan) secara proporsional. Barangkali masih banyak yang

berpendapat bahwa mengukur adalah merupakan beban. Jadi, bila mungkin mereka

akan menghindarinya. Padahal, bisakah kita membuat tanpa mengukur dan menilai

apa yang kita buat?

Kelompok teknologi nomor 4 (perencanaan & penjadwalan proses), menurut

pengamatan kami, masih dilaksanakan secara minim, kalaupun tidak dikatakan

primitif. Hal ini merupakan ciri dari rendahnya kualitas sumber daya manusia yang

menanganinya. Kecuali, bagi industri yang bekerjasama dengan perusahaan asing,

umumnya perencanaan dan penjadwalan produksi bisa dikatakan cukup baik. Tetapi,

apakah memang sudah cukup baik untuk dipertandingkan dalam era kompetisi global?

Kelompok nomor 5 (manajemen perusahaan) pada banyak perusahaan

manufaktur kelihatannya berjalan lancar. Tapi apa betul demikian? Silakan pembaca

menilai sendiri dengan mengamati perilaku mereka (bagaimana mereka

memperlakukan standar internasional misainya ISO, bagaimana proses sertifikasinya

dilaksanakan, bagaimana mereka mentaati peraturan dan undang-undang, bagaimana

mereka “mengembangkan SDM”, bagaimana mereka menangani lingkungan, apa

yang terjadi dengan perpajakan, dsb.).

Permasalahan di atas makin diperumit dengan masuknya berbagai jenis

produk hasil industri manufaktur luar negeri. Alasan klasik masih sering kita dengar,

pengusaha menyalahkan pemerintah karena tak bisa melindungi industri manufaktur

dalam negeri, pemerintah menyalahkan pengusaha karena tak sungguh-sungguh

mentaati peraturan. Sementara aturan masih “tambal sulam”, “krismon” pun menjadi

“kambing hitam yang paling hitam”. Bila semua saling menyalahkan hasiInya jelas,

yakni kesalahan yang tak bisa menjadi betul dengan sendirinya.

Berbagai macam usaha perbaikan dapat dilakukan. Namun harus diingat

bahwa kerusakan/kesalahan telah cenderung meluas, rumit, dan saiing mengait

(“lingkaran setan”). Oleh sebab itu, perlu segera ditangani dengan memperbaiki

semuanya secara serentak (pemerintah, pengusaha, pelanggan, pemasok).

Definisi Rekayasa (Engineering)

Menurut definisi, Rekayasa (Engineering) adalah seni untuk memanfaatkan

teknologi dan menjalankan/mengoperasikan mesin & peralatan untuk mengolah bahan

menjadi produk dengan nilai tambah tertentu. Kata seni (art) memiliki konotasi erat

dengan manusia. Berarti, rekayasa memerlukan manusia yang memiliki kebisaan.

Jadi, tidak akan salah bila pengembangan Industri Manufaktur pada umumnya dan

Industri rekayasa pada khususnya dimulai dengan mengembangkan SDM.

Pengembangan SDM ini perlu ditangani secara sistematik dan tekun (sabar, ngotot,

tak kenal menyerah, dan sungguh-sungguh) supaya Industri Manufaktur dapat

dipraktekkan dan dikembangkan di negara kita.

Pola umum acuan standardisasi

Manfaat Standar

Untuk memperlancar penanganan sistem produksi dengan kendala seperti yang

disinggung di muka, diperlukan dasar yang kuat mengenai penghayatan dan

pemanfaatan standar. Standar tersebut meliputi rancangan, proses, prosedur, material,

dan komponen/produk, baik berupa standar internasional (ISO), asing (DIN, JIS, dsb),

nasional (SNI), asosiasi (ASTM, dsb) maupun standar yang dikembangkan sendiri

(PPI; standar lokal; pabrik peralatan industri). Berbagai manfaat standar yang patut

dikemukakan antara lain,

1. Mempermudah perancangan (standar gambar teknik, toleransi dan suaian),

2. Mempermudah perancangan, perencangan & pengontrolan (standar material,

komponen, proses, dan prosedur), .

3. Mempermudan dan mengefektifkan penjaminan mutu (standar kontrol

kualitas),

4. Mempermudah pengelolaan (standar elemen basis data).

Acuan standardisasi dalam pembentukan sistem produksi bagi pabrik peralatan

industri seperti ini harus diterapkan secara nyata demi untuk menghasilkan produk

yang berkualitas. Secara umum, metoda pemanfaatan standar ini juga diulas dalam

standar internasional yaitu ISO seri 9000 (Quality Management and Quality

Assurance Standards; Guidelines for selection and use). Beberapa jenis standar ISO

yang memerinci system penjaminan mutu ini adalah:

– ISO 8402, Quality Vocabulary,

– ISO 9001, Quality Systems; Model for Quality Assurance in Design/Development,

Production, Installation and Servicing.

– ISO 9002, Quality Systems; Model for Quality Assurance in Production and

Installation.

– ISO 9003, Quality Systems; Model for Quality Assurance in Final Inspection and

Test.

– ISO 9004, Quality Systems; Quality Management and Quality System Elements;

Guidelines

Seri terbaru dari standar di atas adalah.

– ISO 9000-2000E, Quality Management Systems-Fundamentals and Vocabulary

Sebagai standar yang sangat erat hubungannya dengan ISO seri 9000 adalah:

– ISO 19011, Guidance on Auditing Quality and Environmental Management Systems

FUNGSI PENDUKUNG PEMANFAATAN TEKNOLOGI CAD-CAM

Untuk menangani mesin dan peralatan produksi yang dimiliki pabrik,

diperlukan sistem pendukung yang efektif dan efisien mengingat kecanggihan dan

harga mesin/peralatan ybs. Sistem Produksi dari suatu industri pemesinan yang

memanfaatkan CAD-CAM (Computer Aided Design-Manufacturing) dapat dianggap

sebagai sistem terpadu yang terdiri atas beberapa bagian/departemen yang

bekerjasama erat untuk mencapai tujuan tertentu secara efektif (berfungsi dalam

mencapai tujuan), dan efisien’ (memaksimumkan pemanfaatan personil, sarana,

modal, dan informasi).

Istilah CAM (Computer Aided Manufacturing) biasanya berkaitan erat dengan

CAD (Computer Aided Design), karena perancangan mendahului pembuatan/fabrikasi

maka dikenal istilah CAD-CAM. Pada istilah ini, tersirat pemakaian komputer dalam

ke dua kegiatan tersebut di mana, sesuai dengan perkembangan teknologi, memang

komputer saat ini memegang peranan dalam banyak hal. CAD-CAM muncul sekitar

awal tahun limapuluhan yaitu saat diperkenalkan jenis Mesin Perkakas Kontrol

Numerik (NC Machine Tools) serupa dengan mesin perkakas biasa yang gerakan

pahat potongnya dikontrol secara numerik (digital) berdasarkan program. Pada

mulanya, pembuatan program bagi mesin ini amat sulit dan perlu tindakan coba-

koreksi (trial & error) melalui produksi percobaan. Sekitar pertengahan tahun

enampuluhan, diperkenalkan layar monitor grafik (Graphic CRT Sejak itu,

pemrograman mesin NC mulai dipermudah karena dengan perkembangan perangkat

lunak simulasi proses pemesinan dapat dilakukan pada layar monitor kornputer

pernrograman NC.

Semula sistem CAD-CAM hanya bisa dimanfaatkan oleh industri industri

besar, seperti industri kapal terbang dan kendaraan bermotor di Amerika (Mc Donald

Douglas, Lockheed, Boeing, GM) serta industri kornputer (IBM) bekerjasama dengan

MIT. Pemanfaatan melalui penelitian dan pengembangan secara mandiri (inhouse

system) ini memang amat mahal. Disekitar akhir tahun enampuluhan, mulai muncul

industri yang mengkhususkan pada pemasolkan sistem CAD-CAM lengkap (tinggal

pakai”; turn key system) seperti Applicon, CALMA, Computervision yang

menyediakan selain perangkat keras juga perangkat lunak (masih terbatas pada 2-

dimensional drafting system). Di pertengahan tahun tujuhpuluhan, perangkat lunak

untuk penggambaran 3-Dimensi mulai dipasarkan. Sejak itu, terbuka kemungkinan

untuk pembuatan basis data geometrik produk yang bisa dimanfaatkan pada setiap

tingkat, mulai dari perancangan, pembuatan, perakitan, penjualan, sampai dengan

jasa-purna-jual (service).

Gambar 2 Intergrasi antara CAD dan CAM

CAD-CAM, yang berkembang dari perkembangan kornputer grafis, mesin

NC, basis-data geometrik, dan pemrosesan-informasi ini, menjadi dasar dari industri

modern bercirikan kompetisi ketat dalam kualitas dan produktivitas. Mengapa CAD-

CAM dalam banyak segi dianggap menguntungkan? Dua keuntungan yang patut

diutarakan adalah keterbuatan produk berkualitas tinggi dan optimisasi pemanfaatan

tenaga ahlilterampil yang boleh dianggap langka. Meskipun demikian, banyak

masalah dalam CAD-CAM yang belum terselesaikan, antara lain dalam standardisasi

komponen komputer, komponen mesin/perkakas, format data dan sebagainya.

Sementara itu, saat ini mulai banyak dipasarkan berbagai perangkat keras dan lunak,

baik secara terpadu maupun terpisah, masing-masing dengan keuntungan dan

kerugiannya. Hal ini dapat membingungkan dan merugikan pengguna yang

kebanyakan belum berpengalaman dalam memanfaatkan teknologi CAD-CAM.

Mesin Perkakas NC sebenamya serupa dengan mesin perkakas biasa (nonNC,

konvensional) yang terdiri atas berbagai jenis sesuai dengan jenis proses yang bisa

dilaksanakannya. Misainya, untuk proses pemesinan dapat ditemulkan mesin NC jenis

bubut (turning), freis (milling), pelubangan/ koter (boring), gurdi (drilling), gerinda

(grinding). Untuk proses pengelasan, biasanya ditemukan jenis mesin NC untuk

pemotongan (flame cutting) dan pengelasan-titik (spot welding). Bagi proses

pembentukan, contohnya mesin NC jenis pelubang (punching), pemotongan

(nibbling), pembengkok-pipa (pipe bending), dan pembentulk-putar (flow turning).

Berbagai mesin NC untuk proses nontradisional / nonkonvensional, misainya proses

erosi bunga api (EDM; Electrical -Discharge-Machining), pemesinan dengan berkas

laser (LBM; laser beam machining) serta pemesinan dengan jet-air (WJM; water jet

machining). Proses pengontrolan kualitas geometrik dipermudah dengan adanya

mesin ukur koordinat (CMM; coordinate measuring machine).

Mesin-mesin NC tersebut di atas memerlukan berbagai perangkat lunak

(program) dalam pengoperasiannya, misainya program sistem operasi (operating

system), program-program kelengkapan (utility programs) dan program-program

aplikasi khusus (special application programs) bagi kornputer pengontrolnya (dengan

jenis CPU serupa dengan yang dipakai PC). Program-program tersebut dibuat oleh

pembuat sistem kontrol beserta pembuat mesin pada saat sistem kontrol (komputer)

“dikawinkan” dengan mesin perkakas. Pengguna mesin NC secara tak-langsung

danlatau langsung memanfaatkan program-program tersebut ketika mesin NC

digunakan untuk membuat produk. Dalam hal yang terakinir ini pengguna perlu

secara khusus membuat suatu program pembuatan yang dalam istilah populemya

disebut pernrograman NC (NC programming).

Dibandingkan dengan mesin konvensional yang setaraf dan sejenis, mesin NC

dikatakan lebih teliti (accurate), lebih tepat (precise), lebih luwes (flexible), dan lebih

produktif (productive). Konstruksi mesin perkakas NC secara umum lebih baik

dengan transmisi daya yang kompak dan pemakaian elemen pembimbing serta

penggerak yang lebih teliti. Pemakaian elemen pengukur jarak gerakan yang teliti,

dengan rangkaian kontrol tertutup, (closed loop controf system) serta

dimungkinkannya penerapan teknik kompensasi kesalahan yang terprogram, akan

menaikkan ketelitian gerakan pahat relatif terhadap benda kerja. Ketelitian, ketepatan,

produktivitas, dan fieksibilitas mesin perkakas jenis CNC hanya dapat dicapai bila

faktor-faktor pendukung pengoperasiannya dipenuhi, memerlukan penguasaan Teknik

Pernrograman NC dan Teknologi Proses Pemesinan termasuk Perancangan Proses,

Basis Data Geometrik supaya ketelitian produk (kesalahan geometrik sekecil

mungkin) terpenuhi dan sekaligus menjamin beriangsungnya proses pembuatan secara

benar (urutan yang logis dan seoptimum mungkin). memerlukan sistem perkakas

(tooling system) yang handal sesuai dengan fieksibilitas yang dimiliki mesin CNC.

Memerlukan sistem penyiapan benda kerja yang berupa perkakas bantu cekam untuk

menjaga produktivitas dan ketepatan proses (keterulangan dalam mereproduksi

dengan kualitas geometrik yang serupa). memerlukan pemahaman atas sifat fisik dan

ketermesinan (machinability) benda kerja supaya proses pemesinan berlangsung

secara optimum. memerlukan penghayatan atas ketelitian, ketepatan, kecermatan, dan

kualitas geometrik bagi produk yang dihasilkannya. memerlukan sarana yang

memadai dalam penyediaan tenaga dan fasilitas lainnya termasuk peralatan

transportasi (materials handling) dalam ruang pabrik dengan tata-letak (lay out)

tertentu. memerlukan pengelolaan/manajemen produksi yang handal dalam usaha

membuat produk yang kompetitif (sadar kualitas, sadar ongkos dan sadar waktu).

memerlukan pemahaman atas mesin perkakas, kontrol numerik, mekatronik,

pengetesan dan tekniklprogram perawatan.

Referensi

Rochim, Taufiq, Teknologi & Industri Manufacturing, Makalah Seminar Nasional

Viable Manufacturing System, Yogyakarta, 2002

Chang, Wysk, Wang, Computer Aided Manufacturing, Prentice Hall International,

Second Edition, 1998

Rao PN, Manufacturing Technology, Tata Mc Graw Hill, 1990

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s